<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kolom &#8211; BKPSDM Kabupaten Trenggalek</title>
	<atom:link href="https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/tag/kolom/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Jun 2017 00:32:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.4</generator>

<image>
	<url>https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/wp-content/uploads/2023/04/cropped-bkd-32x32.png</url>
	<title>kolom &#8211; BKPSDM Kabupaten Trenggalek</title>
	<link>https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Benarkah Kalian Pahlawan?</title>
		<link>https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/2017/06/13/benarkah-kalian-pahlawan/</link>
					<comments>https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/2017/06/13/benarkah-kalian-pahlawan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[BKD Trenggalek]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Jun 2017 06:32:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom Kepegawaian]]></category>
		<category><![CDATA[kolom]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://bkd.trenggalekkab.go.id/?p=1358</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Muhammad Afifudin (Sebuah Kontemplasi Bagi Tenaga Pendidik yang Berstatus Aparatur Sipil Negara) &#8230; Tengok guru-guru di madrasah diniyah, tanya gajinya berapa, di sekolah diniyah, kalau kalian (tenaga pendidik yang berstatus ASN) menjadi&#46;&#46;&#46;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-1359" src="https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/wp-content/uploads/2017/06/muhammad-afifudin-225x300.jpg" alt="muhammad afifudin" width="225" height="300" srcset="https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/wp-content/uploads/2017/06/muhammad-afifudin-225x300.jpg 225w, https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/wp-content/uploads/2017/06/muhammad-afifudin.jpg 480w" sizes="(max-width: 225px) 100vw, 225px" /></p>
<p style="text-align: center;">Oleh : Muhammad Afifudin<strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>(Sebuah Kontemplasi Bagi Tenaga Pendidik yang Berstatus Aparatur Sipil Negara)</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8230; Tengok guru-guru di madrasah diniyah, tanya gajinya berapa, di sekolah diniyah, kalau kalian (tenaga pendidik yang berstatus ASN) menjadi guru mendapatkan imbalan maka bersyukurlah dengan mendidik sebaik-baiknya karena banyak guru sekolah diniyah memang gak ada gaji atau adapun sangat kecil sekali, padahal mereka punya anak dan istri, sama seperti guru-guru (tenaga pendidik yang berstatus ASN) di sekolah umum &#8230;</p>
</blockquote>
<p>Pendidikan di negara ini merupakan makanan pokok yg harus ada, sekolahan berjajar-jajar di setiap tempat seperti persaingan, menghadirkan menu-menu pendidikan yg berbeda di setiap warung-warung pendidikan yg ada. Tapi satu, apa menu utama yg di sajikan ? Jaman dulu yang pasti ada adalah menjadikan siswa yg budiman, berakhlak luhur. Kalau sekarang yang pasti ada justru menjadikan siswa yg berprestasi. <em>Lha emang</em> salah <em>to</em> menjadikan siswa yg berprestasi?<em> Ya nggak, gak</em> salah, cuma jangan jadi menu utama.</p>
<p>Sekarang pikir, apa guna orang cerdas tapi akalnya rusak. Akankah kalian mencetak calon-calon koruptor, tapi ya jangan bilang apa guna berakhlak bagus tapi prestasi nol, cetaklah murid yg berakhlak bagus dan berprestasi, bukannya berprestasi dan berakhlak bagus. Tengok saja kenyataan di era modern ini, akhlak begitu tak di perhatikan, yang penting ulangan dapat nilai sepuluh.</p>
<p>Saya heran dengan berita-berita waktu lalu di mana guru sampai masuk persidangan gara-gara dituntut orang tua atas pidana kekerasan mencubit siswanya. Padahal saya yakin, justru itulah tanda sayangnya seorang guru pada muridnya, dan mungkin juga ia berhasil menjadi seorang guru karena kerasnya pendidikan yang ia rasakan di masa lalu. Tapi syukurlah di Trenggalek saya tak mendengar berita-berita orang tua tak bermoral seperti itu.</p>
<p>Kenapa sampai ada kejadian seperti itu? Ya sebab mereka dididik dengan didikan yg salah. Seperti dari awal tadi saya katakan, hal yg paling utama diajarkan pada murid itu seharusnya akhlak, diberi pelajaran tata krama, cara menghormati orang yang lebih tua, mengasihi yang lebih muda dan sesama. Bukannya guru itu, pahlawan tanpa tanda jasa yang mengajari murid agar menjadi orang yg benar dan bukan hanya pandai saja. saya yakin jika sekolahan di indonesia hal akhlakul karimah menjadi prioritas utama apalagi ditambah dengan pelajaran agama, maka tawuran tak seramai di era modern ini, begitupun dengan para koruptor.</p>
<p>Yang saya curigai, apakah guru-guru mendidik dengan sepenuh hati, ikhlas, dan kerja keras? Jangan berkata ikhlas, kalau gaji yang <em>melulu</em> diutamakan. Ikhlas itu kan bekerja dengan sepenuh hati tanpa mengharapkan imbalan ganjaran bahkan gaji sekalipun. Lha terus keluarga saya mau di kasih makan apa kalau saya tak di gaji? Ya gak seperti itu, tapi jangan jadikan gaji sebagai prioritas utama dalam mengajar, yg penting kerja keras gaji <em>gak</em> dicari juga pasti diberikan, pemerintah <em>gak</em> sepelit itu bukan.</p>
<p>Kalau hal yang saya kawatirkan ini memang yang sedang terjadi, benarkah kalian pahlawan, yg selama ini guru disebut-sebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa? Tanpa tanda jasa <em>gimana</em>? <em>Wong</em> kalau gaji kurang protes, kalau perlu demo besar-besaran. Tengok guru-guru di madrasah diniyah, tanya gajinya berapa. Di sekolah diniyah, kalau kalian (tenaga pendidik yang berstatus ASN) menjadi guru mendapatkan imbalan maka bersyukurlah dengan mendidik sebaik-baiknya karena banyak guru sekolah diniyah memang <em>gak</em> ada gaji atau adapun sangat kecil sekali, padahal mereka punya anak dan istri, sama seperti guru-guru (tenaga pendidik yang berstatus ASN) di sekolah umum. Ayo <em>dong</em> para guru-guru, tanamkan akhlak pada murid kalian <em>gak</em> rugi kok saya yakin, <em>gak</em> rugi punya murid yang berakhlak bagus. Mana gelar kalian, tunjukkan pada dunia, jika guru memang pahlawan. Pahlawan yang tak mengharapkan jasa.</p>
<p><small>*) Penulis adalah seorang pedagang bakso yang tinggal di RT 20 RW 06 Dusun Kebonsari Desa Gondang Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek</small></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/2017/06/13/benarkah-kalian-pahlawan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Masih Menjadi Tantangan</title>
		<link>https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/2017/06/13/pendidikan-masih-menjadi-tantangan/</link>
					<comments>https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/2017/06/13/pendidikan-masih-menjadi-tantangan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[BKD Trenggalek]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Jun 2017 04:37:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom Kepegawaian]]></category>
		<category><![CDATA[kolom]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://bkd.trenggalekkab.go.id/?p=1355</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Kabul Trikuncahyo *) &#8230; Tantangan pola pikir lama juga menjadi hambatan, bagaimanapun tenaga pendidik merupakan hasil pendidikan dengan kurikulum yang lama, tentu masa dan perkembangan sosial budaya sehingga tujuannya juga berbeda. Upgrade&#46;&#46;&#46;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="western" align="center"><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-1356" src="https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/wp-content/uploads/2017/06/kabul-trikuncahyo-300x300.jpg" alt="kabul trikuncahyo" width="300" height="300" srcset="https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/wp-content/uploads/2017/06/kabul-trikuncahyo-300x300.jpg 300w, https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/wp-content/uploads/2017/06/kabul-trikuncahyo-150x150.jpg 150w, https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/wp-content/uploads/2017/06/kabul-trikuncahyo-768x768.jpg 768w, https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/wp-content/uploads/2017/06/kabul-trikuncahyo-160x160.jpg 160w, https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/wp-content/uploads/2017/06/kabul-trikuncahyo-320x320.jpg 320w, https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/wp-content/uploads/2017/06/kabul-trikuncahyo.jpg 960w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p class="western" align="center"><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: medium;"><b>Oleh : Kabul Trikuncahyo *)</b></span></span></p>
<blockquote><p>&#8230; Tantangan pola pikir lama juga menjadi hambatan, bagaimanapun tenaga pendidik merupakan hasil pendidikan dengan kurikulum yang lama, tentu masa dan perkembangan sosial budaya sehingga tujuannya juga berbeda. Upgrade pengetahuan dan dinamika yang berkembang mutlak dilaksanakan, mau atau tidak, karena pendidik merupakan agen perubahan. Sewaktu – waktu, setiap saat terjadi perkembangan maka pendidiklah pertama yang mengambil peranan, bukan sebaliknya. Karena yang langgeng adalah perubahan&#8230;</p></blockquote>
<p>Setiap orang tentu berharap mendapat pendidikan yang baik. Karena dalam kehidupannya memerlukan adanya perubahan pola pikir, sikap, keterampilan yang harapannya membawa perbaikan hidup dalam hal ekonomi dan sosialnya.  Tetapi apakah pasti setiap pendidikan yang ditempuh akan mendapatkan jaminan kualitas ? Jawabnya untuk sekarang, belum tentu. Karena berbicara kualitas akan menyangkut berbagai aspek. Diantaranya tenaga pendidik. Pembicaraan masalah ini menarik karena memiliki peran penting dalam eksekusi nyata tujuan pendidikan. Tenaga pendidik dan kependidikan bisa saja dari tenaga pemerintah yang berstatus ASN (Aparatur Sipil Negara) ataupun tenaga kontrak, tidak tetap dan pegawai yayasan.</p>
<p>Pengelolaan tenaga pendidik itulah yang mememerlukan banyak pemikiran dari pemerintah dan kelompok masyarakat pemerhati pendidikan, sehingga regulasi yang ditelurkan pemerintah bermacam – macam. Dari UU No.20 tahun 2003 tentang Sisdiknas sampai dengan PP 74 tahun 2008 yang mengatur guru. Seiring perkembangan dan perubahan berbagai aspek yang berkembang sampai saat ini belum mampu menyelesaikan permasalahan. Misalnya rasio guru-siswa, distribusi guru, ketimpangan kualitas pendidikan, standar kemampuan guru yang diujikan melalui uji kompetensi yang dianggap pemerintah belum sesuai dengan harapan.</p>
<p>Pengelolaan tenaga pendidik menyangkut manusia, yang memiliki kompleksitas kepentingan dan tujuan sehingga diperlukan “leader” pengelolaan  yang memahami, bervisi kedepan dan bermisi jelas dan terukur. Atau kata lainnya, yang bisa menerobos garis &#8211; garis batas yang tidak terpikirkan orang lain. Misalnya,  program guru mengajar yang digagas Prof. Anies Baswedan, mantan Rektor Universitas Paramadina yang menginspirasi program sarjana Pendidikan mengajar di daerah terluar, terdepan, tertinggal (SM3T) yang menghasilkan calon – calon guru yang teruji baik akademis, pedagogik dan sosialnya. Tentu masih banyak terobosan – terobosan lain yang bersifat kelompok atau organisasi lain yang tidak terekspos. Itu semua karena pemikiran brilliant untuk mengatasi sebagian kecil dari sekian besarnya permasalahan pendidikan.</p>
<p>Memang perekrutan calon guru masih banyak diperdebatkan, hal ini terkait dengan kualitas guru. Karena tidak cukup hanya didasarkan dengan kepemilikan ijasah sarjana. Pemerintah menginginkan lebih karena menyangkut masa depan generasi bangsa. Bagaimana dengan pemerintah daerah yang notabene memiliki dan membutuhkan. Tentu  menjadi tantangan sendiri, disinilah diperlukan terobosan dengan personil yang sudah ada. Peningkatan kualitas guru perlu mendapatkan perhatian khusus. Pelatihan tidak sekedar mengejar sertifikat, tetapi perlu diubah ke berbasis kinerja atau penugasan yang lebih nyata dan bermanfaat. Ini seperti yang sudah dilakukan Gugus Sekolah II, Unit Dikpora Kecamatan Trenggalek yang telah mengadakan kegiatan <em>In service</em> dan <em>On service</em> KI bagi Guru dan telah memproduksi karya inovatif yang hasilnya bisa dirasakan guru dan siswanya di Tingkat SD dan SLTP. Kegiatan semacam inilah yang perlu dilanjutkan sehingga terus memotivasi guru untuk terus meningkatkan kompetensinya. Bahkan kalau perlu dibantu biaya sekedarnya atau bahkan lebih oleh pemerintah. Meskipun sebuah lisensi  merupakan bentuk dukungan yang juga positif. Bahkan kegiatan – kegiatan yang lain yang berorientasi pada kemajuan guru harus diperhatikan dan didukung penuh, sehingga terus berkembang untuk mendukung kemajuan daerah juga.</p>
<p>Tantangan pola pikir lama juga menjadi hambatan, bagaimanapun tenaga pendidik merupakan hasil pendidikan dengan kurikulum yang lama, tentu masa dan perkembangan sosial budaya sehingga tujuannya juga berbeda. <em>Upgrade</em> pengetahuan dan dinamika yang berkembang mutlak dilaksanakan, mau atau tidak, karena pendidik merupakan agen perubahan. Sewaktu – waktu, setiap saat terjadi perkembangan maka pendidiklah pertama yang mengambil peranan, bukan sebaliknya. Karena yang langgeng adalah perubahan.</p>
<p>Di lingkup sekolah, sebagai ujung tombak keberhasilan, masih banyak yang mengeluhkan layanan baca atau perpustakaan, ada perpustakaan tetapi pemanfaatan kurang maksimal, masih sebatas tugas membaca, dimana ada pengawasan guru, siswa pura – pura membaca jadi kegiatan reseptif dan produktif dari pemanfaatan buku banyak yang belum memanfaatkan dengan maksimal. Layanan akademis yang monoton juga menjadi perhatian sebagian masyarakat, peserta didik mendapatkan pembelajaran sekedar pelayanan, artinya tidak mendapatkan sentuhan – sentuhan yang dapat memotivasi belajar dan meningkatkan hasil sehingga peserta didik merasa jenuh dangan rutinitas yang dilakukan pendidik.</p>
<p>Kreatifitas sekolah juga diperlukan untuk meningkatkan daya tarik sekolah sebagai “taman” belajar bagi anak – anak  sebagai peserta didik. Taman di berbagai aspek, taman bermain, taman belajar, dan taman untuk berekreasi. Tentu tidak hanya taman fisik berupa tanaman hias yang ditata rapi, tetapi plus taman yang berisi nilai – nilai edukatif, misal dengan memanfaatkan hari Kartini sebagai ajang pentas budaya, ajang kreasi seni, cipta baca puisi, dan menulis essai. Kegiatan – kegiatan pembelajaran, intra, ekstrakurikuler tidak sebatas ruang kelas, tetapi harus lebih luas dari sebuah luas  kelas atau  sekolah tetapi harus berkembang keluar. Di sini penting karena sekolah merupakan lingkup kecil dari kehidupan masyarakat sehingga harus terkoneksi dengan lingkungan masyarakat sekitar. Nantinya diharapkan peserta didik setelah lulus tidak gagap dengan kehidupan masyarakat,  komentar negatif lulusan sekolah dapat tereduksi dan terpatahkan oleh praktik – praktik positif dan bermanfaat.</p>
<p><em>Mindset</em> suatu kegiatan pendidikan hanya untuk perlombaan pada waktu tertentu juga harus diubah, jika hal ini masih berlanjut maka hanya yang memiliki komitmen petarunglah yang terus maju. Sedangkan lembaga pendidikan yang tidak memiliki komitmen lomba` tentu saja, berserah diri atau “pasrah bongkokan” kepada para petarung. Jadi, setiap hari semuanya harus berlomba setiap hari tanpa embel – embel spanduk lomba. Jika diberi keterangan lomba maka akan banyak yang merasa kalah. Misalnya, menginginkan sekolah yang bernuansa alam, maka setiap sekolah harus memiliki tanaman sepersekian dari luas sekolah bersifat wajib dan terkontrol, maka pada saat waktu memerlukan yang terbaik maka akan mudah menemukannya. Hal itu bisa dilakukan di setiap poin kegiatan, Ujian Nasional sebagai ranah kognitif misalnya, pengkondisian anak mirip suasana UN sejak kelas awal pada mapel atau bukan mapel UN bisa dilakukan, sehingga pada hari UN yang sebenarnya, anak – anak sudah biasa dengan suasana dan konsekuensinya. Intinya, setiap kegiatan perlu dihindari suasana formal dan menegangkan seperti halnya perlombaan, sehingga kualitas itu mengalir tanpa beban.</p>
<p>Berlomba – lomba untuk menjadi yang terbaik sekarang menjadi suatu keharusan. Bukan plot siapa yang akan megikuti perlombaan. Semua lembaga pendidikan harus mengambil posisi sentral. Karena masyarakat akan menilai, lembaga mana yang pantas mendapatkan hati seiring dengan mudahnya akses transportasi, informasi dan berkembangnya ekonomi. Siapa yang hanya berdiam diri dan terduduk dengan kebiasaan lama yang asal “nrimo”, ibaratkan pasif saja, semua datang dan pasti, muridnya, haknya dan kewajibannya juga sudah itu saja, pasti. Maka untuk saat ini jelas tidak berlaku lagi dan akan tergilas dengan tuntutan dan tantangan jaman yang semakin belum jelas batasnya. Artinya perkembangan akan terus menanti untuk mengembangkan diri. Ibaratkan produk, apa yang menjadi keunggulannnya dari produksi kita.</p>
<p>Tantangan pendidikan, taantangan kita bersama. Betapa tidak, masyarakatpun dituntut berperan aktif untuk mengkonstruksi pendidikan kita. Akses komunikasi, transparansi dibuka lebar, tinggal mau atau tidak memanfaatkan. Dukungan moral atau materipun juga dbutuhkan. Karena saat ini bisa cenderung pasif, karena adanya pemikiran bahwa pendidikan adalah urusan negara, betul. Tetapi peranan stake holder juga penting. Setidaknya alumni harus bisa ikut serta membantu kemajuan eks sekolahnya, misalnya bantuan buku bacaan. Jadi akses tersebut harus termanfaakan dengan baik, jangan sampai lembaga pendidikan sebuah institusi yang eksklusif dan angker bagi masyarakat. Semua harus terbuka, pemimpin sekolah dan masyarakatnya, tidak anti kritik konstruktif. Tidak berperan sebagai priyayi tetapi justru pelayan yang terus belajar dan disegani karena harapannya mampu merubah wajah bangsa melalui kemajuan generasinya.</p>
<p>*) Guru, masih belajar, tinggal di Sukosari, Trenggalek.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/2017/06/13/pendidikan-masih-menjadi-tantangan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kita Ini ASN Asli Atau Imitasi ?</title>
		<link>https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/2017/06/08/kita-ini-asn-asli-atau-imitasi/</link>
					<comments>https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/2017/06/08/kita-ini-asn-asli-atau-imitasi/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[BKD Trenggalek]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Jun 2017 06:09:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom Kepegawaian]]></category>
		<category><![CDATA[kolom]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://bkd.trenggalekkab.go.id/?p=1347</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Mochamad Nur Arifin “&#8230; Maka, janganlah sekali-kali loyalmu itu terhadap pimpinan saja, loyal-lah kepada majikannya pimpinan, yaitu rakyat&#8230; Masihkah kita bertanya jika saya melakukan ini dapat apa? Mau seperti itu dimana anggarannya (bahkan&#46;&#46;&#46;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="size-medium wp-image-1348 aligncenter" src="https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/wp-content/uploads/2017/06/wabup-mas-ipin-260x300.jpg" alt="wabup mas ipin" width="260" height="300" srcset="https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/wp-content/uploads/2017/06/wabup-mas-ipin-260x300.jpg 260w, https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/wp-content/uploads/2017/06/wabup-mas-ipin.jpg 692w" sizes="(max-width: 260px) 100vw, 260px" /></p>
<p style="text-align: center;"><em><i>Oleh: Mochamad</i></em><em><i> </i></em><em><i>Nur</i></em><em><i> </i></em><em><i>Arifin</i></em></p>
<blockquote><p>“&#8230; Maka, janganlah sekali-kali loyalmu itu terhadap pimpinan saja, loyal-lah kepada majikannya pimpinan, yaitu rakyat&#8230; Masihkah kita bertanya jika saya melakukan ini dapat apa? Mau seperti itu dimana anggarannya (bahkan untuk hal-hal rutin yang <em><i>remeh-temeh</i></em>) ? Bonusnya mana?&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Aku adalah kamu, kamu adalah aku, melebur menjadi kita. Siapa kita? Demokrasi rakyat dengan mekanisme pemilihan langsung berkonsekuensi logis terhadap siapa kita. Ketika saya dipilih kemudian dilantik sebagai pemegang mandat rakyat, artinya saat ini saya adalah pembantu atau pelayan atau <i>babu</i><i> </i>dari rakyat. Bagaimana bisa, bukankah itu suatu jabatan tinggi dan bergengsi ? Logikanya, jika kamu mendaftar ke suatu instansi kemudian kamu dipilih dan diterima lamaranmu berarti statusmu yang baru adalah pekerja dari suatu instansi tersebut. Saya mendaftar di Trenggalek, saya melamar rakyat Trenggalek, maka saya pekerja/abdi/pembantu/pelayan/<i>babu</i><i> </i>di Kab<span lang="id-ID">upaten</span> Trenggalek. Setiap hari aku dikecam cemas, terbayang apakah yang aku makan, apa yang aku naiki sebagai fasilitas yang diberikan oleh majikanku, sudah sebanding dengan pekerjaanku. Itu hati baik yang berkata. Tapi ada juga hati buruk yang berkata, jangan sampai besok <i>gak</i><i> </i><i>kepilih</i> lagi. Itu aku, entah kamu!</p>
<p>Jabatanku hanya terhitung waktu, 5 tahun berlalu bisa jadi sudah tidak ada lagi yang akan menyambut dalam acara pengajian dengan perkataan “Yang kami hormati”, belum tentu turun mobil dibukakan pintu dan disalami orang berderet-deret dengan mengucapkan salam. Serasa orang paling mulia saja, seakan-akan seperti keadaan ahli surga yang disambut para malaikat berderet dan mengucapkan<i>“sala</i><span lang="id-ID"><i>a</i></span><i>mun</i><i> </i><i>qaulammirrabi Rahi</i><span lang="id-ID"><i>i</i></span><i>m”</i>. Penghormatan semu yang bias melenakan dan lupa jati diri sebagai <i>babu.</i><i> </i>Itu aku, entah kamu!</p>
<p>Saudara-saudaraku insan ASN yang<span lang="id-ID"> dan </span>dimuliakan Tuhan,</p>
<p>Pemindahan mandat itu ada masanya. Sedangkan pengabdianmu masih lama masanya, mungkin lebih dari puluhan tahun bahkan engkau masih “<i>diopeni</i>” uang pensiun. Sebenarnya jika masyarakat sudah merasakan kerjamu baik, tidak perlu lagi dimandatkan pimpinan daerah melakukan pembinaan ASN, bahkan tidak perlu lagi masyarakat memilih <i>babu-</i>nya, karena semuanya sudah baik. Maka, jangan<span lang="id-ID">lah </span>sekali-kali loyalmu itu terhadap pimpinan saja, loyal-lah kepada majikannya pimpinan, yaitu rakyat. Dengan cara apa ? Implementasikan cita-cita “Maju Bersama”, karena itu yang membuat rakyat mempekerjakan saya.</p>
<p>UU ASN 5/2014 yang saat ini sedang direvisi pada pasal 3(c) berbunyi ASN sebagai profesi berlandaskan prinsip komitmen, integritas moral, dan tanggung jawab pada pelayanan publik. Ini <i>amaliah</i> yang sulit, kerja seumur hidup! Jika kita amalkan ini saya yakin tidak ada satu sen rupiah pun yang pantas untuk menghargai kita, karena pekerjaan ini pekerjaan mulia, tidak ada upah yang pantas bagi pekerjaan mulia selain Tuhan Yang Maha Esa yang membalas itu semua. Masihkah kita bertanya jika saya melakukan ini dapat apa? Mau seperti itu dimana anggarannya (bahkan untuk hal-hal rutin yang <i>remeh-temeh</i>) ? Bonusnya mana? Bukan hanya engkau saudara-saudara, akupun begitu! Siapa <i>sih</i> yang tidak mau harta benda dan kedudukan dunia, mau saudara-saudara, mau! Tapi aku malu. Itu aku, entah kamu!</p>
<p>Aku itu siapa? Aku pun bukan orang yang ikhlas mengabdi saudara-saudara, pengabdian ku kadang hanya memenuhi <i>syahwat </i>pencitraanku. Sedekahku hanya karena dorongan pamerku. Kerjaku hanya kebutuhan foto cantik di Instagramku. Gagasanku adalah kesombongan <i>ke-aku-an</i> dalam jabatanku. Aku lupa! Tapi saya masih bersyukur, karena saya dipilih langsung oleh rakyat, maka saya memiliki semacam hutang budi dengan rakyat, sehingga saya masih didorong untuk melakukan pencitraan. Tetapi bagaimana dengan saudara? Saudara ikhlas? Kalau belum ikhlas, berarti pencitraanjuga? Lho. Tidak pencitraan juga? Berarti <i>gak</i> kerja? Kerja, tapi apa dorongan kerjanya? Ya pokoknya masuk, setiap bulan gajian bayar cicilan, syukur jika ada tambahan.</p>
<p>Saudara, ayolah pencitraan! Kita itu pelayan publik, jika kita saja tidakpunya “nafsu” pencitraan terhadap sesama manusia. Bagaimana kita punya keinginan pencitraan kepada Tuhan Pemilik Alam Semesta. Jika, kamu menunggu <i>ikhlas</i>, sampai mati tidak ada satupun amal yang kamu lakukan. <u>Sampai mati! </u>Amal itu harus dipaksakan, ikhlasmu nanti mengikuti. Sudahlah kita ini bukan orang suci, tapi berusahalah selalu mencapai ridha Ilahi. Saling mengingatkan, semakin baik, semakin baik. Melayani dengan terpaksa, lama-lama biasa, menjadi biasa, menjadi budaya. Budaya melayani. Doaku, semoga kita “kembali” disambut dengan Welas Asih Ilahi Rabbi, Tuhan Yang Maha Esa. Bukankah hidup hanya untuk itu? Jika sudah begitu, mungkin baru kita ini layak disebut ASN asli, bukan imitasi.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://bkpsdm.trenggalekkab.go.id/2017/06/08/kita-ini-asn-asli-atau-imitasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
